Weblog Kumpulan Tugas, Kumpulan Makalah, Tutorial Blogger, Info SEO, Tips & Trick.
merdekabet
Author Google+ Tugasku4u

Makalah Evaluasi Pendidikan

Makalah Evaluasi Pendidikan


KATA PENGANTAR
Syukur Alhamdullilah, Allah mempertemukan kami dalam sebuah proses pembelajaran dengan membuat Makalah Evaluasi Pendidikan yang diantaranya yang akan dibahas adalah instrument tes, tujuan ienstrument test, angket, prosedur pengujian instrument dan bagaimana menilai aspek afektif siswa dan pelaporan hasil penilaian.

Makalah ini kami susun sebagai bagian dari penyempurnaan pembelajaran kami. Dengan demikian dipandang perlu mengkaji dan menelaah tentang materi yang dipaparkan dalam makalah, namun dengan segala keterbatasan kami hanya dapat menjelaskan dengan paparan yang kurang sempurna.

Kami berharap makalah ini dapat dijadikan salah satu bahan bacaan dan telaah ilmu yang nantinya dapat dijadikan salah satu kajian pengetahuan yang diterapkan dalam proses evaluasi.

Makassar, Juli 2012


Tim Penyusun
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan Penulisan
D. Manfaat

BAB II PEMBAHASAN
A. Tinjauan Instrumen Tes
B. Tinjauan Instrummen Angket
C. Prosedur Pengujian Instrument
D. Cara Penilaian Aspek Afektif
E. Pemanfaatan dan Pelaporan Hasil Tes

BAB III PENUTUP
Kesimpulan
DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Upaya mengoptimalkan kemampuan guru yang belum merata dan didorong oleh kemauan untuk memperbaiki mutu evaluasi pembelajaran yang sampai saat ini masih rendah , perlu menjadi bahan kajian mahasiswa untuk senantiasa menelaah dan mengkaji dimana titik-titik hambatannya, sehingga dipandang perlu membahasnya dalam dunia akademik. Penyampaian informasi pembelajaran yang dirancang dan didesain sedemikian baiknya, namun tidak diimbangi dengan telaah evaluasi yang akan diujikan maka keberhasilan pembelajaran belum dapat diukur dan dinilai pencapaiannya.

Istrumen penelitian jenis tes merupakan salah satu komponen penting yang diperlukan dalam proses pembelajaran, namun masih banyak guru yang tidak melakukan penelitian jenis tes terlebih dahulu sebelum memberikan tes bahkan aspek evaluasi hasil belajar ini diabaikan.

Angket juga merupakan instrument pengumpulan data yang mempunyai banyak kelebihan diantaranya dapat mengumpulkan informasi data dalam waktu yang sama dan subyek yang banyak. Namun guru jarang melakukan hal ini dalam proses pembelajaran yang ditelitinya. Setelah data dikumpulkan harus diuji keabsahannya. Maka harus dilakukan uji validitas dan reabelitas.

Selain siswa diukur dan dinilai dalam bentuk memberikan evalusi pendidikan siswa juga dinilai aspek afektifnya dengan format penilaian yang ditetapkan oleh guru. Setelah semua selesai dilaksanakan maka harus membuat pelaporan hasil penilaian yang dipublikasikan dalam bentuk laporan hasil penilaian. Misalnya setiap semester siswa menerima rapor hasil belajar selama satu semester.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan paparan tentang instrument tes dan jenisnya maka dikemukakan
rumusan masalah sebagai berikut :
1. Bagaimana instrument tes hasil belajar dilaksanakan dalam proses penelitian hasil belajar ?
2. Apakah konstribusi instrument angket dalam proses penelitian pembelajaran ?
3. Bagaimana melakukan pengujian hasil tes dalam proses penelitian ?
4. Bagaimana cara melakukan penilaian secara afektif dalamproses belajar ?
5. Bagaimana laporan hasil test dipublikasikan dan dilaporkan kepada peserta didik unsur-unsur terkait ?

C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui bagaimana instrument test dilaksanakan.
2. Untuk mengetahui peranan angket dalam penelitian pembelajaran.
3. Untuk mengetahui cara melakukan pengujian hasil test.
4. Untuk mengetahui cara melakukan penilaian afektif dalam proses pembelajaran.
5. Untuk mengetahui cara melaporkan hasil test kepada unsur terkait

D. Manfaat
Pengetahuan dan segala kemampuan yang didapat dari makalah ini dapat menjadi khasanah ilmu yang bermanfaat untuk pengembangan Sumber Daya manusia yang pada akhirnya perkembangan pendidikan di Indonesia secara Umum.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Tinjauan Instrumen Tes
Instrumen penelitian merupakan salah satu komponen penting yang diperlukan dalam penelitian. Instrumen penelitian jenis penelitian jenis tes dijadikan alat untuk mengukur hasil belajar. Penyusunan tes hasil belajar untuk keperluan penelitian perlu memperharikan hal-hal sebagai berikut :
1. Tes tersebut fungsinya dapat memperoleh informasi tentang subyek penelitian. Untuk memperoleh pemahaman tentang hal-hal yang dapat dinilai melalui tes.

2. Menentukan kriteria penilaian untuk kepentingan penelitian, ini berarti untuk melakukan penelitian yang baik dibutuhkan mutu soal tes yang baik pula.

3. Merancang soal-soal yang akan digunakan dalam penelitian.
Tes adalah alat ukur yang sangat berharga dalam penelitian. Tes merupakan seperangkat rangsangan (stimuli) yang diberikan kepada seseorang dengan maksud untuk mendapatkan jawaban-jawaban yang menjadi dasar bagi penetapan skor angka. Skor yang didasarkan pada sampel yang representative dari tingkah laku pengikutnya merupakan indicator tenteng seberapa jauh orang yang dites itu memiliki karakteristik yang sedang diukur.

Untuk lebih jelasnya tes dapat dilihat dari berbagai aspek :
a. Jenis Tes
Achievement test (tes hasil belajar) adalah tes yang digunakan untuk mengukur kepuasan dan kecakapan individu dari berbagai bidang pengetahuan. Terdiri dari :
- Tes standar atau tes baku
- Tes buatan guru
b. Fungsi achievement tes untuk mengukur kemampuan seseorang dalam satu bidang atau bidang tertentu.
c. Bentuk tes terdiri dari tes : obyektif dan tes uraian.

Bentuk-bentuk tes :
1. Tes Benar-Salah (True-false)
2. Tes pilihan Ganda (Multi Choise Tes)
- Pilihanganda biasa
- Tes hubungan antar hal
- Menjodohkan
- Asosiasi
3. Bentuk tes esai (Tes subyektif)
Tes esai adalah salah satu bentuk tes yang dugunakan juga dalam penelitian. Tes esai digunakann biasanya pada subyek yang sifatnya kecil. Tes ini bermaksud untuk melihat berbagai kemampuan yang dimiliki subyek dalam bentuk tulisan. Jenisnya adalah :
- Bentuk uraian bebas
- Bentuk uraian terstruktur atau terbatas
- Bentuk jawaban singkat
- Melengkapi isian.

B. Tinjauan Instrummen Angket
Angket merupakan instrument pengumpulan data penelitian berupa sejumlah pertanyaan yang diberikan secara tertulis yang diberikan kepada subyek penelitian. seperti telah dikemukakan pengertiannya di atas, merupakan daftar pertanyaan yang diberikan kepada orang lain dengan maksud agar orang yang yang diberi tersebut bersedia memberikan respons sesuai dengan permintaan pengguna. Orang yang diharapkan memberikan respons ini disebut responden. Menurut cara memberikan respons, angket dibedakan menjadi 3 jenis yaitu: angket terbuka, angket tertutup dan angket campuran.

1. Macam-Macam Angket
a. Angket terbuka
Adalah angket yang disajikan dalam bentuk sedemikan rupa sehingga responden dapat memberikan isian sesuai dengan kehendak dan keadaannya. Angket terbuka digunakan apabila peneliti belum dapat memperkirakan atau menduga kemungkinan altematif jawaban yang ada pada responden.
Contoh pertanyaan angket terbuka:
Penataran apa saja yang pernah Anda ikuti yang menunjang tugas Anda mengajarkan bidang studi yang sekarang Anda ajarkan? Tuliskan apa, di mana, dan berapa lama!

Menggali informasi mengenai identitas responden biasanya dilakukan dengan membuat pertanyaan terbuka. Keuntungan pertanyaan terbuka terdapat pada dua belah pihak yakni pada responden dan pada peneliti:
(1). Keuntungan pada responden: mereka dapat mengisi sesuai dengan keinginan atau keadaannya.
(2). Keuntungan pada peneliti: mereka akan memperoleh data yang bervariasi, bukan hanya yang sudah disajikan karena sudah diasumsikan demikian.

b. Angket tertutup
adalah angket yang disajikan dalam bentuk sedemikian rupa sehingga responden tinggal memberikan tanda centang (x) pada kolom atau tempat yang sesuai.
Contoh pertanyaan angket tertutup:
Pernahkan Anda memperoleh penataran yang menunjang tugas Anda mengajarkan bidang studi yang sekarang Anda ajarkan?
Jawab: ..................................
a. Pernah
b. Tidak

Jika pernah, penataran tentang apa saja? (dapat memberikan centang lebih dari satu)
a. materi bidang studi
b. metode mengajar/strategi belajar-mengajar
c. memilih dan penggunaan media/alat pelajaran
d. menyusun alat evaluasi

c. Angket campuran
yaitu gabungan antara angket terbuka dan tertutup.
Contoh pertanyaan angket campuran:
1) Pernahkah Anda memperoleh penataran yang menunjang tugas Anda mengajarkan bidang studi yang sekarang Anda ajarkan? Jika pernah berapa kali?
a. Tidak pernah (langsung ke nomor 3)
b. Pernah, yaitu .....kali (teruskan nomor 2)

2) Penataran tentang apa saja yang Anda ikuti dan berapa hari lamanya?
a. Materi pelajaran .....hari
b. Metode mengajar .....hari
c. Pemilihan dan penggunaan media .....hari
d. Penyusunan alat evaluasi .....hari

2. Daftar Cocok (Checklist)
Di dalam penjelasan mengenai angket dikemukakan juga bahwa dalam mengisi angket tertutup responden diberi kemudahan dalam memberikan jawabannya. Di lain tempat, yakni di dalam penjelasan umum mengenai instrumen disebutkan bahwa daftar cocok adalah angket yang dalam pengisiannya responden tinggal memberikan tanda checklist. Dengan keterangan tersebut tampaknya angket tertutup dapat dikategorikan sebagai checklist. Daftar cocok mempunyai pengertian tersendiri. Daftar cocok bukanlah angket. Daftar cocok mempunyai bentuk yang lebih sederhana karena dengan daftar cocok peneliti bermaksud meringkas penyajian pertanyaan serta mempermudh responden dalam memberikan respondennya. Daftar cocok memuat beberapa pertanyaan yang bentuk dan jawabannya seragam. Agar responden tidak diharapkan pada beberapa pertanyaan mengenai berbagai hal tetapi dalam bentuk membaca, maka disusunlah daftar cocok tersebut sebagai pengganti.

Dari contoh di atas dapat diketahui bahwa variasi jawaban yang harus diberikan oleh responden hanya empat macam yakni:."Dikerjakan oleh Anda", “Dikerjakan bersama", dan "Dikerjakan pembantu". Dengan daftar cocok ini barang kali peneliti hendak mengungkap seberapa besar tanggung jawab responden terhadap pekerjaan di dalam rumah tangga. Jika pertanyaan dan alternatif jawaban tersebut disajikan dalam bentuk angket, alternatif jawaban hanya tiga macam itu akan disebutkan secara berulang-ulang dengan bentuk dan isi yang sama. Daripada memakan tempat padahal responden sudah tahu (dan hafal!) apa yang harus dipilih maka altematif tersebut disingkat dalam bentuk kolom-kolom yang apabila sudah diisi oleh responden terlihat adanya daftar tanda centang yang disebut daftar cocok. Istilah "daftar cocok" juga dapat datang dari apa yang diharapkan dari responden, yakni memberi tanda cocok atau tanda centang pada daftar pernyataan yang disediakan.

3. Skala (scale)
Skala menunjuk pada sebuah instrumen pengumpul data yang bentuknya seperti daftar cocok tetapi alternatif yang disediakan merupakan sesuatu yang berjenjang. Di dalam Encyclophedia of Educational Evaluation disebutkan: The term scale in the measurement sense, comes from the Latin word scale, meaning "ladder" or “flight of stairs". Hence, anything with gradation can be thought of as "scaled". 
Contoh:
Peneliti ingin mengungkapkan bagaimana seseorang mempunyai sesuatu kebiasaan. Alternatif yang diajukan berupa frekuensi orang tersebut dalam melakukan suatu kegiatan. Gradasi frekuensi dibagi atas: "Selalu", "Sering",. "Jarang", "Tidak pernah".

Skala banyak digunakan untuk mengukur aspek-aspek kepribadian atau aspek kejiwaan yang lain. Selain skala, penelitian yang berhubungan dengdn aspek-aspek kejiwaan memerlukan jenis instrumen-instrumen pengumpul data lain, baik yang berupa tes, inventori untuk hal-hal umum (general inventories, misalnya Minnesota Multiphasic Personality Inventory - MMPI, dan inventori untuk aspek-aspek khusus (Specific Inventories seperti: Rokeach Dogmatism Scala, Fundamental Interpersonal Relations Orientation - Behavior - FIRO - B, Study of Values, dan lain-lain). Untuk penelitian pendidikan, walaupun dapat dikatakan tidak terlalu sering menggunakan instrumen-instrumen seperti disebutkan, tetapi bagi penelitinya perlu juga mengenal ragam alat pengumpul data aspek-aspek psikologi tersebut.

Problematika pendidikan seperti kerancuan dalam mengikuti pelajaran, lambatnya siswa menyelesaikan studi serta masalah-masalah yang berhubungan dengan proses belajar, menjadi topik yang tetap aktual di kalangan pendidikan sekolah formal. Selain penelitian yang tidak terlalu menyangkut aspek-aspek kejiwaan secara langsung, masih banyak problem pendidikan yang terkait dengan aspek kejiwaan tersebut, misalnya rendahnya prestasi disebabkan rendahnya harga diri siswa. Lemahnya semangat belajar dikarenakan adanya lesu kreativitas dan seterusnya. Itulah sebabnya dalam bagian ini akan disajikan pula beberapa contoh instrumen untuk mengungkap aspek-aspek kejiwaan agar para peneliti pendidikan dapat terperinci menggali penyebab timbulnya masalah pendidikan melalui aspek kejiwaan siswa dan guru yang terlibat di dalam kegiatan pendidikan tersebut. Namun demikian untuk dapat menggunakan alat-alat pengungkap gejala kejiwaan seperti tes, inventori khusus dan lain-lain, diperlukan suatu kemampuan khusus.Pada umumnya mahasiswa lulusan faktultas Psikologi dapat diminta untuk membantu melaksanakan pengumpulan data yang diungkap melalui instrumen-instrumen tersebut.

Skala seperti dicontohkan di atas merupakan skala bentuk gradasi dari satu jenis kualitas. Dalam contoh di atas, alternatifnya ada empat sehingga terdapat empat tingkatan kualitas keseringan. Skala yang berasal dari ide yang dikemukakan oleh Likert dan dikenal dengan skala Likert ini biasanya menggunakan lima tingkatan. Tentu saja peneliti dapat membuat variabel dengan menyingkat menjadi tiga tingkatan:
Selalu - Kadang-kadang - Tidak Pernah
Baik - Cukup - Jelek
Besar - Sedang - Kecil
Jauh - Cukup - Dekat

Dan dapat pula memperbesar rentangan menjadi lima tingkatan:
Selalu - Sering Sekali - Sering - Jarang - Jarang Sekali
Selalu - sering sekali - Sering - Jarang - Tidak Pernah
Baik Sekali - Baik - Cukup - Jelek - Jelek Sekali
Besar Sekali - Besar - Cukup - Kecil - Kecil Sekali

Pemilihan alternatif diserahkan pada keinginan dan kepentingan peneliti yang trumen tersebut. Ada Jenis lain yang telah dikembangkan oleh Inkels, bukan menyajikan alternative jenjang kualitas untuk sesuatu predikat, tetapi jenjang dari kualitas mini suatu perbuatan. Bentuk skala model. indeks ini menyerupai tes objektif bentuk pilihan ganda, tetapi alternatifnya menunjuk pada gradasi.

Langkah-Langkah Dalam Menyusun Instrumen
Secara umum penyusunan instrumen pengumpul data dilakukan dengan penahapan sebagai berikut:
1. Mengadakan identifikasi terhadap variabel-variabel yang ada di dalam rumusan judul penelitian atau yang tertera di dalam problematika penelitian.
2. Menjabarkan variabel menjadi sub atau bagian variabel.
3. Mencari indikator setiap sub atau bagian variabel.
4. Menderetkan deskriptor dari setiap indikator.
5. Merumuskan setiap deskriptor menjadi butir-butir instrumen.
6. Melengkapi instrumen dengan (pedoman atau instruksi) dan kata pengantar.

C. Prosedur Pengujian Instrument
Pengujian instrument dimulai dengan proses uji coba instrument terhadap sejumlah responden. Hasil yang diperolehkemudian dianalisis untuk menguji instrument tersebut. Ukuran umum yang digunakan uji validitas dan reliabelitas.

a. Pengujian validitas instrumen
Validitas tes berhubungan dengan ketepatan terhadap apa yang mesti diukur oleh tes dan seberapa cermat tes melakukan pengukuran atau dengan kata lain validitas tes berhubungan dengan ketepatan tes tersebut terhadap konsep yang akan diukur, sehingga betul-betul bisa mengukur apa yang seharusnya diukur.
Jenisnya:
- Validitas isi
- Validitas kontruk
- Validitas ramalan dan prediksi
- Validitas kesamaan

b. Reliabelitas
Reliabelitas tes berhubungan dengan konsisten hasil pengukuran yaitu seberapa konsistensi skor tes darisatu pengukuran ke pengukuran berikutnya.
Jenisnya:
- Metode tes-Retest
- Metode Equivalent-forms
- Metode Belah- Dua
- Metode Kuder Richadson

Faktor-faktor yang mempengaruhi Reliabelitas
- Secara umum jika tes semakin panjang, maka semakin tinggi reliabelitasnya
- Penyebaran skor, semakin besar penyebaran skor, maka akan semakin tinggi perkiraan reliabelitasnya
- Kesulitan tes, umumnya tes yang terlalu mudah atau sulit akan menyebabkan reliabelitas semakin rendah. Hal ini disebabkan terbatasnya penyebaran skor.
- Obyektivitas tes
- Waktu tes, tes yang dengan interval yang pendek menyebabkan koefisien reliabelitas tes besar

c. Item Analysis
Item analysis adalah analisis yangdilakukan terhadap item tes untuk menemukan tingkat kesukaran, daya pembeda, dan efektifitas pengecoh (distractor). Jenisnya adalah analisis tes kesukaran, analisis daya pembeda tes, analisis efektivitas pengecoh.
Kegunaan item analysis :
- Mengembangkan Proporsi item yang mudah , sedang, dan sulit dalam tes
- Memperpanjang dan memperpendek tes dalam rangka meningkatkan validitas dan reliabelias tes
- Menyederhanakan konsep dasar dan teknik item analysis
- Membantu pemakaian tes untuk mengevaluasi tes yang dipublikasikan.

D. Cara Penilaian Aspek Afektif
Aspek afektif yang harus dinilai dalam kegiatan penilaian adalah :
1. Aspek kelakuan
2. Aspek keberanian
3. Aspek kebersihan
4. Aspek kerajinan
5. Aspek kedisiplinan

E. Pemanfaatan dan Pelaporan Hasil Tes
1. Pemanfaatan Hasil Pembelajaran
a. Bagi peserta didik yang memerlukan remedial.
Remedial diberikan kepada siswa yang belum mencapai criteria ketuntasaan belajar.

b. Bagi peserta didik yang memerlukan pengayaan.
Pengayaan diberikan kepada siswa yang dapat melakukan percepatan penguasaan terhadap kompetensi yang diberikan.

c. Bagi Guru
Guru dapat memanfaatkan hasil penilaian utnuk perbaikan program dan kegiatan pembelajaran.

d. Bagi Kepala Sekolah
Hasil penilaian dapat digunakan untuk menilai kinerja guru dan tingkat keberhasilan peserta didik.

2. Bentuk laporan hasi penilaian
a. Laporan sebagai akuntabilitas public
Laporan kemajuan hasil belajar peserta didik dibuat sebagai petanggungjawaban lembaga sekolah kepada orang tua/wali , komite sekolah, masyarakat, dan intasi terkait. Laporan tersebut sebagai sarana komunikasi dan kerja sama antara pihak sekolah dengan masyarakat yang terlibat langsung terhadap pendidikan peserta didik.

b. Bentuk Laporan
Laporan harus disajikan dalam bentuk yang lebih komunikatif dankonferhensip agar pfofil atau tingkat kemajuan belajar peserta didik mudah terbaca dan dipahami.

c. Isi laporan

d. Rapor
Rapor adalah laporan kemajuan belajar peserta didik dalamkurun waktu satu semester. Nilairapor adalah gambaran pencapaian kemajuan peserta didik dalam satu semester yang berasal dari nilai ulangan harian, UTS, dan Ulangan akhir Semester.

3. Penentuan kenaikan kelas
Peserta didik dinyatakan tidak naik kelas apabila :
1. Memperoleh nilai kurang dari katagori, baik pada kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia.
2. Jika peserta didik tidak menuntaskan 50 % atau lebih standar kompetensi dari tiga mata pelajaran sampai batas akhir tahun ajaran.
3. Jika alasan kuat misalnya gangguan kesehatanfisik, emosi atau mental sehingga tidak mungkin menyelesaikan kompetensiyang ditargetkan.

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Jadi, upaya mengoptimalkan kemampuan guru yang belum merata dan didorong oleh kemauan untuk memperbaiki mutu evaluasi pembelajaran yang sampai saat ini masih rendah, perlu menjadi bahan kajian mahasiswa untuk senantiasa menelaah dan mengkaji dimana titik-titik hambatannya, sehingga dipandang perlu membahasnya dalam dunia akademik. Penyampaian informasi pembelajaran yang dirancang dan didesain sedemikian baiknya, namun tidak diimbangi dengan telaah evaluasi yang akan diujikan maka keberhasilan pembelajaran belum dapat diukur dan dinilai pencapaiannya. dan juga, istrumen penelitian jenis tes merupakan salah satu komponen penting yang diperlukan dalam proses pembelajaran, namun masih banyak guru yang tidak melakukan penelitian jenis tes terlebih dahulu sebelum memberikan tes bahkan aspek evaluasi hasil belajar ini diabaikan. (Mohon maaf, jika kesimpulannya tidak lengkap, silahkan direvisi atau ditambah)

DAFTAR PUSTAKA
http://www.tugasku4u.com/2013/03/makalah-evaluasi-pendidikan.html
Uno, Hamzah B, Koni, Sastria 2012. Assessment Pembelajaran. Jakarta : Bumi aksara
Uno. Hamzah B. 2007 . Model pembelajaran. Jakarta : Bumi Aksara
Uno Hamzah B. 2006. Perencanaan pembelajaran. Jakarta : Bumi Aksara
Uno Hamzah B, 2006. Orientasi Baru dalam Psikologi pembelajaran. Jakarta : Bumi aksara

Tolong bantu saya klik Tombol Vote ini...



Previous Posts Next Posts Homepage